Tuesday, 28 February 2017

ASAL MULA NAMA-NAMA HARI DALAM BAHASA INGGRIS



Sebagian orang pasti sudah mengenal penamaan hari dalam bahasa Inggris, bahkan anak SD atau mungkin TK sudah hapal nama-nama hari dalam bahasa Inggris. Tapi tahukah kamu dari mana nama-nama hari dalam bahasa Inggis ini berasal. Dalam postingan kali ini saya akan sedikit mengulas mengenai asal muasal penamaan nama-nama hari dalam bahasa Inggris. 

Hampir semua nama hari dalam bhs Inggris (Monday, Thursday, Saturday, Sunday) yang selama ini kita ketahui pada dasarnya mengacu pada fenomena alam yang terjadi di sekitar dan melekat pada pemahaman orang-orang Inggris pada masa lampau. Beberapa nama hari lain yang kita kenal (Tuesday, Wednesday, dan Friday) mencerminkan mengenai kepercayaan kuno orang Inggris pada masa itu yang bermuara pada tata cara penyembahan dewa-dewi yang diperkirakan terjadi sebelum kehadiran agama Kristen yang menguasai Eropa pada sekitar abad ke-2 Masehi.

Asal Usul Nama-nama Hari dalam Bahasa Inggris 

  • Monday - Berasal dari kata “Monandæg” dalam bahasa Inggris Kuno, yang berarti “the day of the moon” 
  • Tuesday – Berasal dari kata “Tiwesdæg” dalam bahasa Inggris Kuno, yang berarti “the day of Tiw” 
  • Wednesday – Berasal dari kata “Wodnesdæg” dalam bhs Ing Kuno, yang berarti “the day of Wodan” 
  • Thursday – Berasal dari kata “Thuresdæg” dalam bahasa Inggris Kuno, yang berarti “the day of thunder” 
  • Friday – Berasal dari kata “Frigedæg” dalam bahasa Inggris Kuno, yang berarti “the day of Frigga” 
  • Saturday – Berasal dari kata “Sætern(es)dæg” dalam bahasa Inggris Kuno, yang berarti “the day of Saturn” 
  • Sunday – Berasal dari kata “Sunnandæg” dalam bahasa Inggris Kuno, yang berarti “the day of the sun” 


Nama Wodan dalam kata “Wednesday”, sebagai contoh, adalah nama dewa tertinggi dalam kepercayaan Inggris Kuno. ia menguasai angin, hujan, petir, dan kekuatan-kekuatan alam lainnya. Sementara itu nama Frigga, yang merupakan istrinya dipercaya sebagai dewi cinta dan namanya diabadikan dalam kata “Friday”. Masih dalam satu garis keturunan para dewa, Tiw, salah satu anak keturunan Wodan-Frigga, dipercaya sebagai seorang dewa perang yang sangat ahli dalam mitologi bangsa Inggris Kuno yang namanya diabadikan dalam kata “Wednesday”. Ketiga nama dewa tersebut Wodan, Frigga, dan Tiw jika dilihat dari sejahrahnya sebenarnya bukan hanya dewa-dewi bagi bangsa Inggris Kuno, tapi juga merupakan nama dewa-dewi yang dipercayai bagi keseluruhan bangsa keturunan bangsa Germanic, yakni bangsa Jerman Kuno, Inggris Kuno, Belanda Kuno (Vries/Flemish), Norwegia Kuno, Swedia Kuno, dan Denmark Kuno (perlu diketahui bahwa ada 5 bangsa kuno utama pembentuk Eropa: Germanic, Romana, Slav, Celtic, dan Ural). 

Wodan dalam kepercayaan Inggris Kuno, misalnya, dikenal juga sebagai Wotan dalam kepercayaan Jerman Kuno dan lebih dikenal sebagai Odin dalam kepercayaan Norwegia Kuno. Begitu pula Frigga dalam kepercayaan Inggris Kuno yang dikenal sebagai Freja dalam kepercayaan Vries/Flemish. Kepercayaan kuno bangsa Germanic, yang berunsurkan Odin, Frigga, dan Tiw sebagai beberapa diantara sekian banyak nama dewa-dewi mereka, sebenarnya hampir sama dengan kepercayaan kuno yang dimiliki bangsa Slav, Celtic, Ural, Romana, Yunani, ataupun bangsa-bangsa kuno Eropa lainnya. Kepercayaan Yunani Kuno, misalnya, juga memiliki seorang dewa maha tinggi yang bernama Zeus (sepadan dengan Jupiter dalam kepercayaan Romana), yang mempunyai istri seorang dewi bernama Hera, dan mempunyai anak diantaranya seorang dewa perang yang bernama Ares (sepadan dengan Mars dalam kepercayaan Romana). Persamaan yang terjadi dalam bidang kepercayaan ini dapat menunjukkan bahwa, meskipun dalam dunia antropologi, bangsa Eropa modern dikatakan terbentuk oleh 5 bangsa kuno utama yang masuk secara bersamaan dan mulai mendiami benua Eropa pada sekitar Zaman Besi (Iron Age), namun ada kemungkinan bahwa 5 bangsa kuno utama ini, sebelum masuknya mereka ke benua Eropa, sebenarnya dulunya terdiri dari satu bangsa tunggal yang berdiam di suatu daerah yang sama. Yang perlu kita ketahui adalah bahwa benua Eropa sendiri, sebelum dimasuki oleh 5 bangsa kuno utama, sebenarnya sudah memiliki penduduk aslinya sendiri (sama seperti Jepang dan bangsa Ainu-nya). 

Salah satu bangsa asli Eropa yang masih eksis saat ini dan yang saya ketahui adalah Euskara yang lebih dikenal dengan Basque yang terletak di daerah selatan dari negara Spanyol. Adanya beberapa perbedaan budaya dan dari segi bahasa yang signifikan dengan orang-orang Spanyol di sekitarnya dan diskriminasi yang terus menerus dari pemerintah Spanyol, banyak dari orang-orang bangsa asli Eropa yang biasa disebut Euskara ini yang kini melakukan kegiatan terorisme di Spanyol di bawah sebuah organisasi separatis yang sudah sangat terkenal di Eropa: ETA (Euskadi ta Askazuna). Dari sekian banyak bangsa asli Eropa, Euskara hanyalah salah satu diantara sedikit bangsa asli Eropa yang sampai saat ini masih bertahan ketika sebagian bangsa Slav, Germanic, Ural, Celtic, dan Romana yang sebetulnya bukan termasuk wilayah non-Eropa masuk dan menduduki daerah Eropa. Bangsa-bangsa asli Eropa lainnya, umumnya, setelah invasi dan tekanan konstan selama berabad-abad, terhapus secara otomatis, baik secara etnisitas maupun linguistik dari benua Eropa.

http://www.encyclopedia.com/doc/1O14...oftheweek.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Week-da...orthern_Europe
http://www.answers.com/topic/norse-m...ern_influences
http://www.paganspace.net/profile/PaganEric

Jakarta, 28 Februari 2017
16.50 WIB


Thursday, 23 February 2017

SAHABAT

Hasil gambar untuk sahabat soleh




Beruntung jika kita masih memiliki sahabat. Namun, yang lebih beruntung lagi jika kita memiliki sahabat yang saleh dan optimistis. Kesalehan sahabat akan mampu meredam gejolak jiwa ketika kita dalam kesedihan dan masalah. Dia ada sisisi kita, lalu bekata. "Menangislah, ekpresikan sedihmu sepuasnya". 

Setelah itu, dia akan menepuk pundak kita dan berkata, "Sekarang ceitakan, apa dampak terburuk ketikamasalahmu itu tidak teratasi?". Kita pun mengisahkannya dengan sesegukan. Dia mendengarkan dengan sepenuh jiwa, seolah kita adalah masalah baginya. Seolah tangisan kita juga sangat menyedihkannya. 

Dia lalu mencoba menenangkan kita dengan kalimat-kalimat keteduhan. Oh, kawan, dia mengingatkan kita tentang sebuah masalah yang hakiki. Seolah masalah kita ini remeh. 

Kita ditegarkannya dengan merenungi kembali untuk apa kita ada. Kita tersadarkan kembali, betapa lemah diri ini. Padahal, ada masalah yang jauh lebih besar ketimbang masalah hidup yang paling mentok akan berakhir dengan kematian raga. 

Dalam buku Cahaya Zaman karangan Dr. Aidh Al-Qarni menceritakan, setiap kali Ibn Al-Jauzi menyempaikan nasihat di suatu majelis, majelis tersebut selalu dipenuhi dengan gambaran-gambaran kehidupan manusia yang tidak seperti biasanya, jiwa-jiwa bagaikan terlepas dari raga, air mata bercucuran, keterpanaan tampak pada wajah-wajah para hadirin, ketakutan menghinggapi hati mereka. ada yang berteriak mengikrarkan tobat, ada yang meratap dan menangis tersedu-sedu karena penyesalan. Ada pula yang sampai tidak sadarkan diri. Ada yang seolah merasa jiwanya remuk akibat cambuk nasihat yang disampaikan. 

Begitulah, sahabat yang saleh akan selalu mengingatkan kita tentang akhirat, alam yang tidak ada batas akhirnya. Kita pun terkenang Hari Pengadilan, ketika mempertanggung jawabkan segala perbuatan di dunia. Bayangan Mahsyar seolah tergambar jelas dalam pikiran kita. Astagfirullah, inilah sebenar-benar masalah. Inilah problematika hidup yang sesungguhnya. Bagaimana bisa kita melupakannya, padahal inilah sebuah kepastian yang pasti datang saatnya. Sahabat yang salaeh akan mengigatkan kita kepada Allah, zat yang Serbamaha, tak ada masalah besar bagiNya, dia dengan mudah menjungkir balik masalah jadi anugerah, musibah jadi hadiah, petaka jadi bahagia. Tak ada yang mustahil bagiNya. 

Sementara kita selama ini menganggap masalah yang kita hadapi seolah tak ada lagi pintu pembuka. Kita seolah merasa buntu menghadapi masalah kita, padahal sungguh itu merupakan hal kecil dan sepele bagi Allah. Sahabat saleh adalah sahabat sejati kita. Tak mudah memang mencarinya, tapi pasti ada. Itulah sebabnya dalam petuha klasik kita mengenal salah satu resep Tombo Ati adalah berkumpul dengan orang saleh, karena pancaran aura kesalehannya bisa mencerahkan jiwa kita. karena bagi orang saleh, tak ada masalah yang lebih besar dibandingkan dengan masalah yang akan kita hadapi di akhirat kelak. 

Dunia hanya panggung sandiwara, kita diminta memerankan sesuai dengan karakter ketokohan kita. Kesedihan, masalah, musibah pasti akan berakhir. Nanti setelah pementasan dunia ini usai, barulah kita tersadar.  Masalah hidup yang selama ini disedihkan, ternyata tak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang dihadapi setelah hidup. 

Ibu Abbas r.a. menceritakan bahwa Rasulullah pernah ditanya, "Wahai Rasulullah, manakah di antara kawan-kawan kami yang terbaik?" Beliau kemudian menjawab:

  1. Seseorang yang dengan melihatnya mengigatkan kalian kepada Allah. 
  2. Dengan perkataannya bertambah amal kebaikan kalian. 
  3. Amal-amalya mengingatkan kalian kepada Akhirat (HR Abu Ya'la)

    Jakarta, 23 Februari 2017
    22.45 WIB





     

Wednesday, 22 February 2017

BAGAIMANA RASANYA DIKHIANATI



Kalau kita diminta untuk menceritakan tentang penghianatan, beuh... mudah sekali kita cerita. Seolah diri kita menjadi orang yang paling dizalimi di dunia ini. Hampir semua dari kita mungkin pernah merasakan betapa sakitnya dikhianati.

Dikhianati teman sendiri, istri yang dikhianati suaminya, suami yang dikhianati istrinya, pemodal yang dikhianati mitra kerja, karyawan yang kita rekrut untuk menangani proyek, eh malah diam-diam merebut proyek kita. Begitu seterusnya. 

Tapi kita seolah-olah tak sadar bahwa ternyata diri kita adalah penghianat yang sesungguhnya. Kita sering lupa bahwa kita sudah dimodali oleh Tuhan dengan beragam fasilitas. Kita diberi mata yang sehat, tapi kita menggunakannya untuk melihat sesuatu yang haram. Kita dimodali telinga yang normal, tetapi dipergunakan untuk mendengarkan yang dilarangNya. Kita diberi tangan yang sehat, tapi digunakan untuk aktivitas yang tak membawa kebaikan. Kita dikasih kaki yang sehat, tapi digunakan untuk melangkah ke tempat yang buruk. 

Hakikat penciptaan mata itu agar kita bisa lebih mudah menyaksikan hal-hal baik dan mengambil pelajaran lebih banyak dari segala peristiwa yang kita saksikan. Diciptakannya telinga agar kita mendengar hal-hal baik. Diciptakannya tangan sebagai fasilitas bagi kita untuk beraktivitas yang baik. Diciptakannya kaki agar kita melangkah ke majelis-majelis yang mulia. 

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mata kita adem ayem saja saat digunakan nonton televisi, tapi langsung meredup saat digunakan untuk membaca buku atau tadarus Al-Quran dan musik, tapi serasa panas saat mendengan tausiyah atau murottal. 

Tangan kita cekatan benar saat mengerjakan hal yang sia-sia, gak ada capeknya saat nge-game, tapi giliran diminta untuk mengerjakan sesuatau yang lebih berguna, malesnya bukan main. Kaki juga begitu. Saat jalan-jalan di mall gak ada capek-capeknya, tapi giliran diinta jalan ke masjid atau majelis ilmu, serasa sangat berat. 

Jakarta, 22 Februari 2017
17.00 WIB




Thursday, 16 February 2017

BELAJAR DARI TEMPAT PAYUNG

http://assets.kompasiana.com/statics/crawl/55682ab20423bd892c8b4567.jpeg?t=o&v=800

Source: kompasiana.com

Tak peduli berapa pun harga payung, semua orang boleh meletakkannya disitu dan membawa kunci untuk disimpan rapi dalam saku. Semua orang berhak menjaga hak miliknya, bagaimana pun kondisinya.

Foto tempat payung ini diambil suatu saat di akhir april, ketika pergi ke kota otaru, Hokkaido dalam liburan golden week. Pagi itu hujan rintik-rintik, hingga hampir setiap orang membawa payung, di Indonesia, kita seringkali malas membawa payung sangat gerimis. Anak laki laki pun demikian, awalnya sok jagoan, sok laki-laki malu kalau memakai payung. 

Ternyata keliru. Di Jepang, jika kita kehujanan sedikit saja, terutama pada musimg musim yang suhunya naik turun dengan drastis, bisa-bisa (kaze wo hiku) atau terkena flu yang sangat menggangu aktifitas banget. Musim seperti ini di Indonesia mungkin disebut pancaroba, saat orang begitu mudahnya terkena flu dan tak enak badan Karena cuaca yang berubah-ubah.

Bayangkan ada 4 musim di jepang, bukan seperti di Indonesia yang hanya terdapat 2 musim. Maka dari itu di jepang hampir tak ada yang main hujan yang bisa bikin kita bernostalgia pada saat kita masih kecil, jadi kita masih beruntung punya memori indah dengan hujan.

Kembali ke foto diatas, ada beberapa payung, di depan payung putih itu adalah payung cepekan (payung yang dijual di took serba 100 yen) dan dibaris tengah payung yang bagus. Tempat payung ini terdapat di gedung bekas kantor cabang sebuah bank. Nihon ginko otaru shiten yang dijadikan museum. Sebuah meseum yang bagus dan membuat pengujung bias banyak belajar tentang uang dan perekonomian meskipun tak suda dan tak paham ilmu ekonomi.

Di tempat fasilitas-fasilitas umum berupa gedung yang pintu masuk dan pintu keluarnya bedekatan, misalnya gedung konser, museum, kantor pemda, perpustakaan pusat kampus dan lain-lain, pasti ada tempat meletakan payung sekaligus tatakannya yang bisa menampung tetesan air hujan. Masing-masing lubang tempat masukkan payung itu berkunci.

Tidak peduli payung yang harganya hanya ratusan yen ataukah ribuan yen, semua mendapatkan hak yang sama, asal masih ada tempat kosong, semua orang boleh meletakkan disitu dan membawa kuncinya untuk disimpan rapi dalam saku. Mereka membuat system yang semua orang berhak menjaga hak miliknya, bagaimanapun kondisinya.

Dari tempat payung ini saja, sudah terefleksi, akan arti memahami kebutuhan orang lain. Juga ada arti sebuah pemerataan. Pelayanan lainnya pun begitu, pemerataan terlihat pada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan kesehatan, transportasi umum dan lainnya. Jadi menerawang membayangkan negeri tercinta Indonesia.