Thursday, 16 February 2017

BELAJAR DARI TEMPAT PAYUNG

http://assets.kompasiana.com/statics/crawl/55682ab20423bd892c8b4567.jpeg?t=o&v=800

Source: kompasiana.com

Tak peduli berapa pun harga payung, semua orang boleh meletakkannya disitu dan membawa kunci untuk disimpan rapi dalam saku. Semua orang berhak menjaga hak miliknya, bagaimana pun kondisinya.

Foto tempat payung ini diambil suatu saat di akhir april, ketika pergi ke kota otaru, Hokkaido dalam liburan golden week. Pagi itu hujan rintik-rintik, hingga hampir setiap orang membawa payung, di Indonesia, kita seringkali malas membawa payung sangat gerimis. Anak laki laki pun demikian, awalnya sok jagoan, sok laki-laki malu kalau memakai payung. 

Ternyata keliru. Di Jepang, jika kita kehujanan sedikit saja, terutama pada musimg musim yang suhunya naik turun dengan drastis, bisa-bisa (kaze wo hiku) atau terkena flu yang sangat menggangu aktifitas banget. Musim seperti ini di Indonesia mungkin disebut pancaroba, saat orang begitu mudahnya terkena flu dan tak enak badan Karena cuaca yang berubah-ubah.

Bayangkan ada 4 musim di jepang, bukan seperti di Indonesia yang hanya terdapat 2 musim. Maka dari itu di jepang hampir tak ada yang main hujan yang bisa bikin kita bernostalgia pada saat kita masih kecil, jadi kita masih beruntung punya memori indah dengan hujan.

Kembali ke foto diatas, ada beberapa payung, di depan payung putih itu adalah payung cepekan (payung yang dijual di took serba 100 yen) dan dibaris tengah payung yang bagus. Tempat payung ini terdapat di gedung bekas kantor cabang sebuah bank. Nihon ginko otaru shiten yang dijadikan museum. Sebuah meseum yang bagus dan membuat pengujung bias banyak belajar tentang uang dan perekonomian meskipun tak suda dan tak paham ilmu ekonomi.

Di tempat fasilitas-fasilitas umum berupa gedung yang pintu masuk dan pintu keluarnya bedekatan, misalnya gedung konser, museum, kantor pemda, perpustakaan pusat kampus dan lain-lain, pasti ada tempat meletakan payung sekaligus tatakannya yang bisa menampung tetesan air hujan. Masing-masing lubang tempat masukkan payung itu berkunci.

Tidak peduli payung yang harganya hanya ratusan yen ataukah ribuan yen, semua mendapatkan hak yang sama, asal masih ada tempat kosong, semua orang boleh meletakkan disitu dan membawa kuncinya untuk disimpan rapi dalam saku. Mereka membuat system yang semua orang berhak menjaga hak miliknya, bagaimanapun kondisinya.

Dari tempat payung ini saja, sudah terefleksi, akan arti memahami kebutuhan orang lain. Juga ada arti sebuah pemerataan. Pelayanan lainnya pun begitu, pemerataan terlihat pada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan kesehatan, transportasi umum dan lainnya. Jadi menerawang membayangkan negeri tercinta Indonesia.

Share this

0 Comment to "BELAJAR DARI TEMPAT PAYUNG"

Post a Comment