Thursday, 23 February 2017

SAHABAT

Hasil gambar untuk sahabat soleh




Beruntung jika kita masih memiliki sahabat. Namun, yang lebih beruntung lagi jika kita memiliki sahabat yang saleh dan optimistis. Kesalehan sahabat akan mampu meredam gejolak jiwa ketika kita dalam kesedihan dan masalah. Dia ada sisisi kita, lalu bekata. "Menangislah, ekpresikan sedihmu sepuasnya". 

Setelah itu, dia akan menepuk pundak kita dan berkata, "Sekarang ceitakan, apa dampak terburuk ketikamasalahmu itu tidak teratasi?". Kita pun mengisahkannya dengan sesegukan. Dia mendengarkan dengan sepenuh jiwa, seolah kita adalah masalah baginya. Seolah tangisan kita juga sangat menyedihkannya. 

Dia lalu mencoba menenangkan kita dengan kalimat-kalimat keteduhan. Oh, kawan, dia mengingatkan kita tentang sebuah masalah yang hakiki. Seolah masalah kita ini remeh. 

Kita ditegarkannya dengan merenungi kembali untuk apa kita ada. Kita tersadarkan kembali, betapa lemah diri ini. Padahal, ada masalah yang jauh lebih besar ketimbang masalah hidup yang paling mentok akan berakhir dengan kematian raga. 

Dalam buku Cahaya Zaman karangan Dr. Aidh Al-Qarni menceritakan, setiap kali Ibn Al-Jauzi menyempaikan nasihat di suatu majelis, majelis tersebut selalu dipenuhi dengan gambaran-gambaran kehidupan manusia yang tidak seperti biasanya, jiwa-jiwa bagaikan terlepas dari raga, air mata bercucuran, keterpanaan tampak pada wajah-wajah para hadirin, ketakutan menghinggapi hati mereka. ada yang berteriak mengikrarkan tobat, ada yang meratap dan menangis tersedu-sedu karena penyesalan. Ada pula yang sampai tidak sadarkan diri. Ada yang seolah merasa jiwanya remuk akibat cambuk nasihat yang disampaikan. 

Begitulah, sahabat yang saleh akan selalu mengingatkan kita tentang akhirat, alam yang tidak ada batas akhirnya. Kita pun terkenang Hari Pengadilan, ketika mempertanggung jawabkan segala perbuatan di dunia. Bayangan Mahsyar seolah tergambar jelas dalam pikiran kita. Astagfirullah, inilah sebenar-benar masalah. Inilah problematika hidup yang sesungguhnya. Bagaimana bisa kita melupakannya, padahal inilah sebuah kepastian yang pasti datang saatnya. Sahabat yang salaeh akan mengigatkan kita kepada Allah, zat yang Serbamaha, tak ada masalah besar bagiNya, dia dengan mudah menjungkir balik masalah jadi anugerah, musibah jadi hadiah, petaka jadi bahagia. Tak ada yang mustahil bagiNya. 

Sementara kita selama ini menganggap masalah yang kita hadapi seolah tak ada lagi pintu pembuka. Kita seolah merasa buntu menghadapi masalah kita, padahal sungguh itu merupakan hal kecil dan sepele bagi Allah. Sahabat saleh adalah sahabat sejati kita. Tak mudah memang mencarinya, tapi pasti ada. Itulah sebabnya dalam petuha klasik kita mengenal salah satu resep Tombo Ati adalah berkumpul dengan orang saleh, karena pancaran aura kesalehannya bisa mencerahkan jiwa kita. karena bagi orang saleh, tak ada masalah yang lebih besar dibandingkan dengan masalah yang akan kita hadapi di akhirat kelak. 

Dunia hanya panggung sandiwara, kita diminta memerankan sesuai dengan karakter ketokohan kita. Kesedihan, masalah, musibah pasti akan berakhir. Nanti setelah pementasan dunia ini usai, barulah kita tersadar.  Masalah hidup yang selama ini disedihkan, ternyata tak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang dihadapi setelah hidup. 

Ibu Abbas r.a. menceritakan bahwa Rasulullah pernah ditanya, "Wahai Rasulullah, manakah di antara kawan-kawan kami yang terbaik?" Beliau kemudian menjawab:

  1. Seseorang yang dengan melihatnya mengigatkan kalian kepada Allah. 
  2. Dengan perkataannya bertambah amal kebaikan kalian. 
  3. Amal-amalya mengingatkan kalian kepada Akhirat (HR Abu Ya'la)

    Jakarta, 23 Februari 2017
    22.45 WIB





     

Share this

0 Comment to "SAHABAT"

Post a Comment